Saturday, April 20

ADIWIYATA DAN PENERAPAN HIDUP SEHAT BERWAWASAN LINGKUNGAN


Nah, Minna-san *deuh, lagaknya* langsung saja ya, check it out! :

ADIWIYATA? PASTI BISA!
            PONOROGO? JEGEG!
            Demikianlah salam Adiwiyata yang diajarkan di beberapa di Ponorogo, termasuk sekolah kami di SMPN 1 Jetis Ponorogo.
            Adiwiyata, atau penghargaan yang diberikan kepada sekolah yang mampu menerapkan kebiasaan hidup sehat dan berwawasan lingkungan di dalamnya. Penerapan ini berarti sangat luas, bukan hanya lingkungan dan fasilitas sekolah saja yang harus memenuhi persyaratan, namun yang terpenting adalah karakter yang dimiliki warga sekolah.
            Pada dasarnya, yang harus terlibat dalam hal ini adalah seluruh warga sekolah, namun, ada kalanya masyarakat sekitar sekolah perlu mengerti, apa maksud dari Adiwiyata itu sendiri, agar manfaat yang diperoleh dari program Adiwiyata tidak hanya dinikmati warga suatu sekolah, namun juga masyarakat di sekitarnya, dan harapannya, masyarakat di sekitar sekolah Adiwiyata tadi dapat menyebarluaskan manfaat tersebut.
            Sebagaimana kami tuliskan dalam judul kami, yaitu Adiwiyata dan Penerapan Hidup Sehat Berwawasan Lingkungan, kami ingin berbagi pendapat tentang penerapan hidup sehat berwawasan lingkungan tersebut.

            Penerapan hidup sehat berwawasan lakukan seharusnya dilakukan sejak dini, dimulai dari hal-hal kecil di rumah, misalnya, adik kecil suka makan permen, orangtua atau anggota keluarga lainnya sebaiknya mengajari dan mendidiknya untuk membuang bungkus permen pada tempatnya, namun, jangan lupa selalu memberi contoh pada mereka. Anak kecil memahami norma di lingkungan dengan cara imitasi atau meniru, karena itu, dengan memberi contoh yang baik, mereka juga akan meniru yang baik. Selain itu, akan percuma jadinya jika kita menyuruh adik kita membuang sampah pada tempatnya, padahal kita sendiri malah membuang sampah sembarangan. Setelah diterapkan di rumah, anak menjadi terbiasa dengan kebiasaan tersebut dan menerapkannya di tempat lain, termasuk sekolah. Anak juga suka benda-benda dengan warna yang beraneka ragam, karena itu, kita bisa sediakan dua tempat sampah di rumah, satu untuk sampah organik, dan satu untuk sampah anorganik. Kemudian, kita bisa menghiasnya dengan gambar-gambar yang disukai anak, misalnya permen, boneka, rumah, mobil, dsb. Jangan lupa untuk menuliskan “ORGANIK” dan “ANORGANIK” pada tutup masing-masing tempat sampah. 
            Selain membuang sampah pada tempatnya, biasakan diri kita untuk mencuci tangan. Hal ini dilakukan sebelum dan sesudah makan, setelah buang air, setelah bermain, setelah memegang benda-benda kotor, dain lain-lain. Terkadang mencuci dengan air saja tidak cukup, karena tidak mematikan kuman yang masih menempel di tangan, karena itu gunakan sabun ketika mencuci tangan. Akan semakin menyenangkan lagi jika Guru mengajak murid membuat tempat cuci tangan mereka sendiri. Kita bisa mengembangkan kreativitas yang kita miliki. Contohnya, membuat penampung airnya dari bekas galon yang dicat warna-warni sesuai keinginan lalu diberi lubang di bagian bawahnya, kemudian, untuk menahan agar air tidak memancar keluar terus-menerus, kita bisa menyumbatnya dengan gabus, bisa juga memasang kran pada lubang tersebut jika ingin lebih mudah.
            Ketiga, makanan. Sering kita jumpai anak membeli jajan di depan sekolah—yang belum tentu kebersihan dan kandungan nilai gizinya, belum lagi jika penjual menjajakan dagangannya di dekat tempat sampah—tentu saja mengundang para lalat untuk mampir. Sekolah Adiwiyata—dan bahkan bukan hanya sekolah Adiwiyata saja, tapi semua sekolah hendaknya mampi menyediakan kantin yang memadai dan berkualitas dengan jajanan yang berkualitas pula, sehingga siswa tidak perlu membeli jajan di luar sekolah. 
Dampak negatif yang dirasakan memang belum terasa dalam jangka waktu dekat, tapi dalam jangka waktu panjang, kemungkinan baru akan dirasakan—akibat mengkonsumsi jajanan yang tidak baik. Guru juga dapat memberikan saran bagi murid untuk membawa bekal sendiri dari rumah, lebih higienis, dan jelas kandungan gizinya, serta GRATIS tentunya! J (contoh : gambar kotak makan di atas tuh)
            Jika sekolah sudah mampu melaksanakan penyediaan jajanan sehat bagi warga sekolah, sekolah bisa memberikan sosialisasi kepada masyarakat. Kembali ke poin awal, bahwa manfaat sekolah Adiwiyata juga harus bisa dirasakan masyarakat, bukan hanya warga sekolah saja. Kalian siap?! HARUS SIAP dong...

(Source : Dirangkum dari pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup kelas VIII B 2012/2013  SMPN 1 Jetis) (maksudnya, pas guruku PLH lagi menerangkan, kurangkum deh materinya jadi satu) *hehehe*

No comments:

Post a Comment